Big problems

 

images

Assalamualaikum wr. wb Hhmmmm Welcome 2016 apa kabar cintaku”V” aku hanya wanita lemah yang selalu berharap akan cinta itu sekarang tidak lagi sudah masuk 4 tahun ku tahan rasa ini begitu sulit bagiku hmmm semoga engkau bahagia dengan dia aku mungkin hanya terjebak cinta masa lalu itu kata RAISYA. Sekarang pikiranku terbuka bahwa aku harus banyak sadar . bahwasanya semua tidak mungkin terjadi aku disini RIAU . Kau disana Jakarta City oh ya satu kata ” LA TAHZAN” ini penyamangat hidupku 🙂 menangis tiada guna lagi karena yakin apa yang di takdirkan tuhan itu tepat pada hambanya . Sekarang hanya nyiapin PROPOSAL buat dia iman surgaku ya ke pada ALLAH AZZA WA JALLA memantapkan hati tuk dapat rida darinya amin.

Selalu ikhlas, sabar dan berdoa semoga semuanya baik-baik aja. Karena saya percaya Tuhan itu maha adil.

Sabar itu susah, sehingga hadiahnya setimpal yaitu Surga yg Indah. Kalau gampang paling hadiahnya kalender atau payung

Sabar itu memang sulit makanya hadiahnya surga. Kalau gampang paling hadiahnya rice cooker

Orang yang tidak sabar biasanya lebih memilih untuk bicara apa adanya, frontal, tanpa memikirkan resiko setelah itu

kalo udah sayang sama seseorang, antara bodoh sama sabar itu hampir gak ada bedanya ya

Nyari yg setia, pengertian, sabar itu emang susah. Makanya kalau punya pacar setia, sabar dan pengertian itu dijaga, Jangan disiain.

Ketulusan seseorang itu bisa diukur dari cara dia memperhatikan kamu, menyikapi kamu, dan sabar menghadapi sifat buruk kamu.

Cinta itu butuh sabar, tapi jangan lupa kalo sabar itu ada batasnya..

Sabar itu di otak kanan, Orang yang mempunyai kesabaran, akan mendapatkan apa yang diinginkan.

Belajar Ikhlas, sabar, kuat, tegar, jujur, baik, itu susah gak gampang! Mau gak mau dalam hidup kita harus lakuin itu

sabar itu menyakitkan, diam itu menyiksa, berbicara pun menyedihkan

Sabar itu melapangkan hati dengan apapun kondisi, simpan keluh walau berpeluh. Tetap kuat dan semangat

Sahabat adalah seseorang yang selalu ada disisi kita, dia selalu sabar mendengar masalah kita & bersedia menolong apabila kita kesusahan.

Dalam dunia ini kita tidak lari dari masalah… kita harus mengharungi dengan sabar

Masalah tidak akan menjadi beban jika kita dapat menyelesaikan dengan sabar dan dengan kelapangan hati.

Dari semua masalah yang ada, aku belajar bnyak hal diantaranya sabar, ikhlas & bersyukur, dan aku yakin semua akan indah pada waktunya

Intinya harus sabar,sabar dan sabar menghadapi masalah.Allah gakbakal ngasih cobaan yg gak bisa dilewati oleh umatnya kok

ya Allah.. semoga masalah-masalah yg ku hadapi ini menjadikan aku semakin kuat dan sabar :’) Amin

Yakinlah, Tak ada masalah yang tak dapat diatasi. Selama tangan masih mengepal sabar dan syukur

Masalah tidak akan menjadi rumit jika kamu bisa menyikapinya dengan sabar dan dengan kelapangan hati.

Orang yg sabar bukan berarti orang yg tak akan pernah marah.Mereka hnya sebagian orang yg msh bisa tetap diam saat melihat masalah.

Ketika lo bisa sabar dan tabah terhadap masalah yg menimpa lo, dijamin lo akan mendapatkan ganti yg lebih baik lagi.

KETENANGAN itu akan lahir dari setiap jiwa yang Sabar dan Ikhlas, meskipun dihimpit berbagai masalah Hidup.

Memang tak mudah untuk “sabar” dalam menghadapi masalah, tetapi itu salah satu cara agar semua baik-baik saja.

Tuhan jadikanlah hama sebagai pribadi yang lebih sabar dalam menghadapi masalah

jangan selesaikan masalah dengan mengeluh, berkeluh kesah dan marah marah, selesaikan saja dengan sabar, syukur, dan jangan lupa tersenyum

Bukan semua masalah kita boleh cerita, kadangkala berdiam diri itu adalah penyelesaian terbaik. Sabar, Allah kan ada.

Jangan jadikan masalah sebagai beban hidup, masalah itu adalah pelajaran untuk bisa lebih sabar dan ikhlas.

Dari masalah kita belajar banyak hal, salah satunya adalah bagaimana menjadi orang yang sabar.

Tetaplah sabar dalam mengatasi masalah, jangan pernah memakai emosi berlebihan

Ikhlas mengajari sabar untuk dapat tenang dalam menghadapi masalah apapun karena ia tahu semua yang terjadi hanyalah kehendakNya

Hadapi masalah dengan penuh sabar dan tabah kerana Allah sentiasa bersama dengan kita untuk menyelesaikannya.

Sabar ya… Masalah akan berlalu, selepas itu kita akan menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih tangguh…

Ketika ujian & masalah yg kt hadapi terasa begitu berat maka hdpilah dg sabar & serahkan kmbali smw urusan hy kpd Allah agr hatimu tenang.

Cinta tanpa masalah dan pertengkaran hanya ada dalam dongeng. Sabar saja. Ini semua akan membaik.

Ilmu yg bisa menyelesaikan segala masalah yaitu sabar & ikhlas

Saat kamu terpuruk oleh masalah, Tuhan ingin kamu belajar bangkit lewat masalah. Belajar kuat,belajar sabar,belajar lebih dewasa.

Dalam menyelesaikan masalah, di situ akan terbuktinya akhlak sebenar seseorang individu dalam mengawalnya. Marah atau sabar. Air atau api.

Sabar dalam menjalani hidup dan sabar dalam menyelesaikan masalah merupakan langkah pendewasaan diri kamu.

Jadikan sabar sebagai ‘penolong’. Seringkali ketika kita sabar & ikhlas thdp suatu masalah, solusi pun hadir seketika

Kita dewasa karena masalah..iya masalah yang membuat kita lebih kuat dan lebih sabar lagi

CR : http://www.dipacarin.com/2014/06/kata-kata-bijak-sabar-menghadapi-masalah.html

Iklan
Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

A Brief History of the Veil in Islam

Assalamualaikum wr.wb To this day, head coverings play a significant role in many religions, including Orthodox Judaism and Catholicism.

Islam began as a small faith community in the Arabian Peninsula. The community was established in Medina by the prophet Mohammed (c. 570–632 CE). From there it spread through the Middle East to Saharan and sub-Saharan Africa, to Central Asia, and to many societies around the Arabian Sea. After Islam was established in the Middle East and North Africa, it made significant inroads into Europe, as well.

Scarves and veils of different colors and shapes were customary in countless cultures long before Islam came into being in the seventh century in the Arabian Peninsula (which includes present-day Saudi Arabia). To this day, head coverings play a significant role in many religions, including Orthodox Judaism and Catholicism.

Since the seventh century, Islam has grown to be one of the major world religions.  As it spread through the Middle East to Saharan and sub-Saharan Africa, to Central Asia, and to many different societies around the Arabian Sea, it incorporated some local veiling customs and influenced others. But it is only recently that some Islamic states, such as Iran, have begun to require all women to wear the veil (in Iran it is called the chador, which covers the entire body).

Critics of the Muslim veiling tradition argue that women do not wear the veil by choice, and they are often forced to cover their heads and bodies. In contrast, many daughters of Muslim immigrants in the West argue that the veil symbolizes devotion and piety and that veiling is their own choice. To them it is a question of religious identity and self-expression.


Types of headscarves:

  • The hijab is one name for a variety of similar headscarves. It is the most popular veil worn in the West. These veils consist of one or two scarves that cover the head and neck. Outside the West, this traditional veil is worn by many Muslim women in the Arab world and beyond.
  • The niqab covers the entire body, head and face; however, an opening is left for the eyes. The two main styles of niqab are the half-niqab that consists of a headscarf and facial veil that leaves the eyes and part of the forehead visible and the full, or Gulf, niqab that leaves only a narrow slit for the eyes. Although these veils are popular across the Muslim world, they are most common in the Gulf States. The niqab is responsible for creating much debate within Europe. Some politicians have argued for its ban, while others feel that it interferes with communication or creates security concerns.
  • The chador is a full-body-length shawl held closed at the neck by hand or pin. It covers the head and the body but leaves the face completely visible. Chadors are most often black and are most common in the Middle East, specifically in Iran.
  • The burqa is a full-body veil. The wearer’s entire face and body are covered, and one sees through a mesh screen over the eyes. It is most commonly worn in Afghanistan and Pakistan. Under the Taliban regime in Afghanistan (1996–2001), its use was mandated by law.

 


What are the origins of the obligation to wear the Islamic veil (or hijab in Arabic)? Do all Muslim women wear the veil? Do they have to? Also, are all veils the same, or do they take different forms and shapes? And, finally, what objections does the veil raise in some countries in the West? Sociologist Caitlin Killian explains that, in the past as in the present, the tradition of veiling has been influenced by different religious interpretations as well as by politics.

Muslim religious writings are not entirely clear on the question of women veiling. Various statements in the Quran and the Hadith (statements attributed to the prophet Mohammed) make reference to Mohammed’s wives veiling, but it is debatable whether these statements apply only to the Prophet’s wives or to all Muslim women.

While the need for women to be modest is mentioned, the area women must cover depends on the source and ranges from “the bosom” to the whole body except the face and hands. The veil is a vehicle for distinguishing between women and men and a means of controlling male sexual desire. . . . Muslim men are also urged to be modest and to cover themselves between the waist and the knees. . . . [In some Islamic societies] an immodest woman brings dishonor not only on herself but also on her male family members. . . . The veil itself, however, predated Islam and was practiced by women of several religions. It also was largely linked to class position: Wealthy women could afford to veil their bodies completely, whereas poor women who had to work [in the field] either modified their veils or did not wear them at all.

The numerous styles of Islamic dress throughout the world today reflect local traditions and different interpretations of Islamic requirements. Muslim women in France, therefore, exhibit a wide range of dress and head coverings. Many wear nothing that distinguishes them as Muslims. A number of immigrant women practice modesty, not by donning traditional dress (i.e., the North African djellaba), but rather by wearing long-sleeved shirts and skirts that reach the ankles. For those who do veil, some simply wear brightly colored scarves on their heads, sometimes even allowing hair to show; others pin unicolor veils tightly around the face; and still others adopt long, flowing Islamic dress and occasionally cover the entire face except for the eyes. The girls at the center of the controversy usually wear Western clothing with a veil pinned around the face to cover their hair.

The struggle over Maghrebian women’s dress began long before their immigration to France in the 1970s. French and British colonizers encouraged Muslim women to remove the veil and emulate European women. Consequently, in Algeria and other North African and Middle Eastern countries, the veil became a symbol of national identity and opposition to the West during independence and nationalist movements.1

Excerpted from “The Other Side of the Veil: North African Women in France Respond to the Headscarf Affair.” Copyright © 2003 by Gender and Society. Reprinted with permission.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Story of my Love

love       

Story Love (11’06’2012)

Aku berjalan dengan penuh harapan dan menaruh harapan yang begitu besar terhadap dirinya lelaki Jakarta yang mendekati ku ini adalah orang yang baik dari keluarga yang baik. Namanya “V” lelaki ini membuat ku jatuh hati sehingga aku mudah saja menerima cintanya ya dia adalah fisrt love dalam hidupku. Hanya berkenalan dalam satu minggu dia membuat hatiku tentram dan tenang bersamanya ya. Senin, 11 juni 2012 hari dimana ia menyatakan cintanya padaku entah kenapa dan mengapa aku tiba-tiba menerimanya ya Allah ya rabb aku mohon padamu ya maha agung engkaulah yang menumbuhkan rasa cinta ini aku mohon agar aku bisa menjaganya amin ya rabbal alamin. Mr. V banyak memberiku pelajaran mengenai hidup ini baik suka dan duka ku lewati bersamanya.

Ketika cinta kita di uji hari demi hari, bulan demi bulan tahun berganti tahun ku selalu bersabar menunggu di dalam tahajudku selalu berdo’a ya rabb jikalau dia memang terbaik untukku ku mohon padamu jagakan dia lindungi dia dalam langkahnya tegur aku begitu juga dia jikalau berbuat salah. Dia smart and I like him heheheh cie ile bahasa inggris sikit hehehe hmm tapi cinta kita tiba-tiba di uji dengan kata putus, ya allah kenapa ini harus terjadi padaku karena salah paham aku harus kuat dan menjadi wanita strong aku yakin allah memberikan ku cobaan ini agar aku menjadi lebih baik.

Ketika salah paham ini terjadi ku hela nafas ku basuh wajahku dengan wudhu ku hadapkan ke kiblat sambil memohon ke pada allah ta’ala agar hubungan tetap terjalin tetapi ternyata tidak. Ya allah ku hela nafas ku lagi dan mengelus dada dan perbanyak istighfar astaghfirullahhaladzim, astaghfirullahhaladzim, astaghfirullahhaladzim. AKu berkomiten dalam hidupku walau dia tidak mencintaiku lagi maka ya rabb izinkan aku mencintai walau ia tak tahu. Setelah end tidak ada kabar just waiting.

2014 aku melihat fotonya bersama wanita lain aku merasa …………………sedih yang tak terungkapkan aku terkejut melihat foto itu ya allah ternyata perasaan yang aku jaga selama 3 tahun ini untuk dia ternyata bertepuk sebelah tangan.

Dia selalu mengira bahwa aku mendapatkan penggantinya padahal tidak. Tapi tak mengapa aku sabar dalam hatiku bilang senyumin aja. entah kenapa aku tak bisa menerima cinta lelaki lain aku tak bisa menemukan sosok seperti dia sampai sekarang ini DUA RIBU LIMA BELAS. Kata-kata Ibnu Abbas ini membuatku kuat:

Wahai orang yang di rundung derita, sesungguhnya derita itu ringan

Bergembiralah dengan kebaikan, karena zat yang pemberi keringanan itu allah

Putus asa kadang memutuskan harapan orangnya

Jangan sekali-kali berputus asa, Karena zat yang mencukupi itu allah

Allah menjamin setelah kesukaran ada kemudahan

Jangan sekali-kali risau, karena sang pencipta itu allah

Apabila engkau mendapat cobaan, maka percayalah pada allah dan relakanlah

Sesungguhnya zat yang meperlihatkan cobaan itu allah

Demi allah engkau tidak punya apapun selain allah

Maka  cukuplah bagimu dalam segala hal itu allah

Mungkin jikalau suatu saat nanti jikalau allah berkehendak mempertemukan aku dengan jodohku maka di situ aku akan berhenti mencintainya tapi aku tak kan berhenti untuk selalu berdo’a untuk kebaikannya , kemudahan dalam rezekinya, lindungi dia di setiap langkahnya dan menjadikan dia sebagai hero di hatiku . tapi mebuat hatiku terkadang senang adalah ketika dia menanyakan kabarku senangnya alhamdulillah J happy, happy, happy mungkin di situ cara tuhan menyenangkan hatiku yang rindunya mendalam. Saat ini aku berkomiten tidak pacaran dan focus untuk kuliah dahulu walau zaman sekarang ini begini tapi aku yakin kegalauan ku berkurang karena “wahuwa ma’akum aina makuntum :”dia allah bersamamu dimanapun kamu berada “. Tapi cintaku karena allah dan semua karena allah. Aku mungkin di bilang bodoh tapi itulah caraku untuk menjaga marwahku untuk dia jodohku kelak . Amin  LET US FIGHT FOR OUR SUCCES! LET US NOT STOP !

Dipublikasi di About me | Meninggalkan komentar

SMPN 8 RAMBAH

Bissmilahirrahmanirrahim 🙂

assalamualaikum wr.wb ready to become a teacher in junior high school SMPN 8 RAMBAH

Senin, 27/07/2015 first time to work

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

BULAN RAMADHAN TIBA :)

aaaa

Keutamaan Bulan Ramadhan

 Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al-Qur’an

 Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al-Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah [2] : 185)

Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan,”(Dalam ayat ini) Allah ta’ala memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ‘alaihimus salam.” (Tafsirul Qur’anil Adzim, I/501, Darut Thoybah)

Setan-setan Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka Ketika Ramadhan Tiba

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR. Muslim)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan,”Pintu-pintu surga dibuka pada bulan ini karena banyaknya amal saleh dikerjakan sekaligus untuk memotivasi umat islam untuk melakukan kebaikan. Pintu-pintu neraka ditutup karena sedikitnya maksiat yang dilakukan oleh orang yang beriman. Setan-setan diikat kemudian dibelenggu, tidak dibiarkan lepas seperti di bulan selain Ramadhan.” (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 4, Wazarotul Suunil Islamiyyah)

Terdapat Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan

 

Pada bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah -yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ – وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ – لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr [97] : 1-3)

Dan Allah ta’ala juga berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan [44] : 3)

Ibnu Abbas, Qotadah dan  Mujahid mengatakan bahwa malam yang diberkahi tersebut adalah malam lailatul qadar. (Lihat Ruhul Ma’ani, 18/423, Syihabuddin Al Alusi)

Bulan Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Doa

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (HR. Al Bazaar sebagaimana dalam Mujma’ul Zawaid dan Al Haytsami mengatakan periwayatnya tsiqoh/terpercaya. Lihat Jami’ul Ahadits, Imam Suyuthi)

Keutamaan Puasa

1. Puasa adalah Perisai

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.” (HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’)

2. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pahala yang Tak Terhingga

3. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Dua Kebahagiaan

4. Bau Mulut Orang yang Bepuasa Lebih Harum di Hadapan Allah daripada Bau Misik/Kasturi

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ . وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ . وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ ، وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Allah berfirman,’Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Saya sedang berpuasa’. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira karena puasanya’. “ (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Puasa akan Memberikan Syafaat bagi Orang yang Menjalankannya

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata,’Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya’. Dan Al-Qur’an pula berkata,’Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Beliau bersabda, ‘Maka syafaat keduanya diperkenankan.’” (HR. Ahmad, Hakim, Thabrani, periwayatnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Haytsami dalam Mujma’ul Zawaid)

6. Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pengampunan Dosa

 

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Bagi Orang yang Berpuasa akan Disediakan Ar Rayyan

 

Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama  Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka,’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga pembahasan di atas dapat mendorong kita agar lebih bersemangat untuk mendapatkan keutamaan berpuasa di bulan Ramadhan dengan cara menghiasi hari-hari di bulan yang penuh berkah tersebut dengan amal saleh yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya yang mulia.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Maroji’: Shifat Shaum Nabi fi Ramadhan, Syaikh Salim Al Hilali & Syaikh Ali Hasan Al Halabi dengan sedikit tambahan

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Muroja’ah: Ustadz Abu Sa’ad

copas : Artikel www.muslim.or.id

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Isra Miraj

Kisah Isra’ Mi’raj

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah salah satu peristiwa yang agung dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian orang meyakini kisah yang menakjubkan ini terjadi pada Bulan Rajab. Benarkah demikian? Bagaimanakah cerita kisah ini? Kapan sebenarnya  terjadinya kisah ini? Bagaimana pula hukum merayakan perayaan Isra’ Mi’raj? Simak  pembahasannya dalam tulisan yang ringkas ini.

Pengertian Isra’ Mi’raj

Isra` secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isra` adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Palestina), berdasarkan firman Allah :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha “ (Al Isra’:1)

Mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara istilah, Mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk naik dari bumi menuju ke atas langit, berdasarkan firman Allah dalam surat An Najm ayat 1-18.[1]

Kisah Isra’ Mi’raj

Secara umum, kisah yang menakjubkan ini  disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur`an dalam firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)

Juga dalam firman-Nya:

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى. مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى. أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm : 1-18)

Adapun rincian dan urutan kejadiannya banyak terdapat dalam hadits yang shahih dengan berbagai riwayat. Syaikh Al Albani rahimahullah dalam kitab beliau yang berjudul Al Isra` wal Mi’raj menyebutkan 16 shahabat yang meriwayatkan kisah ini. Mereka adalah: Anas bin Malik, Abu Dzar, Malik bin Sha’sha’ah, Ibnu ‘Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab, Buraidah ibnul Hushaib Al-Aslamy, Hudzaifah ibnul Yaman, Syaddad bin Aus, Shuhaib, Abdurrahman bin Qurath, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, ‘Ali, dan ‘Umar radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Di antara hadits shahih yang menyebutkan kisah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya , dari sahabat Anas bin Malik :Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar . Kemudian datang kepadaku Jibril  ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi  khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “ Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam  meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:“Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan(wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan  Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam:57).

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan  Harun alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Mamuur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya

 Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam.  Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)

Untuk lebih lengkapnya, silahkan merujuk ke kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2968 dan 3598 dan Shahih Muslim nomor 162-168 dan juga kitab-kitab hadits lainnya yang menyebutkan kisah ini. Terdapat pula tambahan riwayat tentang kisah ini yang tidak disebutkan dalam hadits di atas.

Kapankah Isra` dan Mi’raj?

Sebagian orang meyakini bahwa peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Padahal, para ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal kejadian kisah ini. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai penetapan waktu terjadinya Isra’ Mi’raj , yaitu[2] :

  1. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun tatkala Allah memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nubuwah (kenabian). Ini adalah pendapat Imam Ath Thabari rahimahullah.
  2. Perisitiwa tersebut terjadi lima tahun setelah diutus sebagai rasul. Ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Imam An Nawawi dan Al Qurthubi rahimahumallah.
  3. Peristiwa tersebut terjadi pada malam tanggal dua puluh tujuh Bulan Rajab tahun kesepuluh kenabian. Ini adalah pendapat Al Allamah Al Manshurfuri rahimahullah.
  4. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi enam bulan sebelum hijrah, atau pada bulan Muharram tahun ketiga belas setelah kenabian.
  5. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Muharram tahun ketiga belas setelah kenabian.
  6. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi setahun sebelum hijrah, atau pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ketiga belas setelah kenabian.

Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri hafidzahullah menjelaskan : “Tiga pendapat pertama tertolak. Alasannya karena Khadijah radhiyallahu ‘anha meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh setelah kenabian, sementara ketika beliau meninggal belum ada kewajiban shalat lima waktu. Juga tidak ada perbedaan pendapat bahwa diwajibkannya shalat lima waktu adalah pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj. Sedangakan tiga pendapat lainnya, aku  tidak mengetahui mana yang lebih rajih. Namun jika dilihat dari kandungan surat Al Isra’ menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada masa-masa akhir sebelum hijrah.”

Dapat kita simpulkan dari penjelasan di atas bahwa Isra` dan Mi’raj tidak diketahui secara pasti pada kapan waktu terjadinya. Ini menunjukkan bahwa mengetahui kapan waktu terjadinya Isra’ Mi’raj bukanlah suatu hal yang penting. Lagipula, tidak terdapat  sedikitpun faedah keagamaan dengan mengetahuinya. Seandainya ada faidahnya maka pasti Allah akan menjelaskannya kepada kita. Maka memastikan kejadian Isra’ Mi’raj terjadi pada Bulan Rajab adalah suatu kekeliruan. Wallahu ‘alam..

Sikap Seorang Muslim Terhadap Kisah Isra’ Mi’raj

Berita-berita yang datang dalam kisah Isra’ Miraj seperti sampainya beliau ke Baitul Maqdis, kemudian berjumpa dengan para nabi dan shalat mengimami mereka, serta berita-berita lain yang terdapat dalam hadits- hadits yang shahih merupakan perkara ghaib. Sikap ahlussunnah wal jama’ah terhadap kisah-kisah seperti ini harus mencakup kaedah berikut :

  1. Menerima berita tersebut.
  2. Mengimani tentang kebenaran berita tersebut.
  3. Tidak menolak berita tersebut atau mengubah berita tersebut sesuai dengan kenyataannya.

Kewajiban kita adalah beriman sesuai dengan berita yang datang terhadap seluruh perkara-perkara ghaib yang Allah Ta’ala kabarkan kepada kita atau dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.[3]

Hendaknya kita meneladani sifat para sahabt radhiyallahu ‘anhum terhadap berita dari Allah dan rasul-Nya. Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, orang-orang musyrikin datang menemui Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.  Mereka mengatakan : “Lihatlah apa yang telah diucapkan temanmu (yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)!” Abu Bakar berkata : “Apa yang beliau ucapkan?”. Orang-orang musyrik berkata : “Dia menyangka bahwasanya dia telah pergi ke Baitul Maqdis dan kemudian dinaikkan ke langit, dan peristiwa tersebut hanya berlangsung satu malam”. Abu Bakar berkata : “Jika memang beliau yang mengucapkan, maka sungguh berita tersebut benar sesuai yang beliau ucapkan karena sesungguhnya beliau adalah orang yang jujur”. Orang-orang musyrik kembali bertanya: “Mengapa demikian?”. Abu Bakar menjawab: “Aku membenarkan seandainya berita tersebut lebih dari yang kalian kabarkan. Aku membenarkan berita langit yang turun kepada beliau, bagaimana mungkin aku tidak membenarkan beliau tentang perjalanan ke Baitul Maqdis ini?” (Hadits diriwayakan oleh Imam Hakim dalam Al Mustadrak 4407 dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha).[4]

Perhatikan bagaimana sikap Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu terhadap berita yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam. Beliau langsung membenarkan dan mempercayai berita tersebut. Beliau tidak banyak bertanya, meskipun peristiwa tersebut mustahil dilakukan dengan teknologi pada saat itu. Demikianlah seharusnya sikap seorang muslim terhadap setiap berita yang shahih dari Allah dan rasul-Nya.

Hikmah Terjadinya Isra`

Apakah hikmah terjadinya Isra`, kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak Mi’raj langsung dari Mekkah padahal hal tersebut memungkinkan? Para ulama menyebutkan ada beberapa hikmah terjadinya peristiwa  Isra`, yaitu:

  1. Perjalanan  Isra’ di bumi dari Mekkah ke Baitul Maqdis lebih memperkuat hujjah bagi orang-orang musyrik. Jika beliau langsung Mi’raj ke langit,  seandainya ditanya oleh orang-orang musyrik maka beliau tidak mempunyai alasan yang memperkuat kisah perjalanan yang beliau alami.  Oleh karena itu ketika orang-orang musyrik datang dan bertanya kepada beliau, beliau menceritakan tentang kafilah yang beliau temui selama perjalanan Isra’. Tatkala kafilah tersebut pulang dan orang-orang musyrik bertanya kepada mereka, orang-orang musyrik baru mengetahui benarlah apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Untuk menampakkan hubungan antara Mekkah dan Baitul Maqdis yang keduanya merupakan kiblat kaum muslimin. Tidaklah pengikut para nabi menghadapkan wajah mereka untuk beribadah keculali ke Baitul Maqdis dan Makkah Al Mukarramah. Sekaligus ini menujukkan keutamaan beliau melihat kedua kiblat dalam satu malam.
  3. Untuk menampakkan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan para nabi yang lainnya. Beliau berjumpa dengan mereka di Baitul Maqdis lalu beliau shalat mengimami mereka.[5]

Faedah Kisah

Kisah yang agung ini sarat akan banyak faedah, di antaranya :

  1. Kisah Isra’ Mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla.
  2. Peristiwa ini juga menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seluruh nabi dan rasul’alaihimus shalatu wa salaam
  3. Peristiwa yang agung ini menunjukkan keimanan para sahabat radhiyallahu’anhum. Mereka meyakini kebenaran berita tentang kisah ini, tidak sebagaimana perbuatan orang-orang kafir Quraisy.
  4. Isra` dan Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh beliau, dalam keadaan terjaga. Ini adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama, muhadditsin, dan fuqaha, serta inilah pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama Ahlus sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)

Penyebutan kata ‘hamba’ digunakan untuk ruh dan jasad secara bersamaan. Inilah yang terdapat dalam hadits-hadits Bukhari dan Muslim dengan riwayat yang beraneka ragam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa salaam melakukan Isra` dan Mi’raj dengan jasad beliau dalam keadaan terjaga.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Lum’atul I’tiqad “… Contohnya hadits Isra` dan Mi’raj, beliau mengalaminya dalam keadaan terjaga, bukan dalam keadaan tidur, karena (kafir) Quraisy mengingkari dan sombong terhadapnya (peristiwa itu), padahal mereka tidak mengingkari mimpi”[6]

Imam Ath Thahawi rahimahullah berkata : “Mi’raj adalah benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa salaam telah melakukan Isra` dan Mi’raj dengan tubuh beliau dalam keadaan terjaga ke atas langit…”[7]

  1. Penetapan akan ketinggian Allah Ta’ala dengan ketinggian zat-Nya dengan sebenar-benarnya sesuai dengan keagungan Allah, yakni Allah tinggi berada di atas langit ketujuh, di atas ‘arsy-Nya. Ini merupakan akidah kaum muslimin seluruhnya dari dahulu hingga sekarang.
  2. Mengimani perkara-perkara ghaib yang disebutkan dalam hadits di atas, seperti: Buraaq, Mi’raj, para malaikat penjaga langit, adanya pintu-pintu langit, Baitul Ma’mur, Sidratul Muntaha beserta sifat-sifatnya, surga, dan selainnya.
  3. Penetapan tentang hidupnya para Nabi ‘alaihimus salaam di kubur-kubur mereka, akan tetapi dengan kehidupan barzakhiah, bukan seperti kehidupan mereka di dunia. Oleh karena itulah, di sini tidak ada dalil yang membolehkan seseorang untuk berdoa, bertawasul, atau meminta syafa’at kepada para Nabi dengan alasan mereka masih hidup. Syaikh Shalih Alu Syaikh rahimahullah menjelaskan  bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salaam dalam Mi’raj menemui ruh para Nabi kecuali Nabi Isa ‘alaihis salaam. Nabi menemui jasad Nabi Isa  karena jasad dan ruh beliau dibawa ke langit dan beliau belum wafat.[8]
  4. Banyaknya jumlah para malaikat dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah.
  5. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga adalah kalimur Rahman (orang yang diajak bicara langsung oleh Ar Rahman).
  6. Allah Ta’ala memiliki sifat kalam (berbicara) dengan pembicaraan yang sebenar-benarnya.
  7. Tingginya kedudukan shalat wajib dalam Islam, karena Allah langsung yang memerintahkan kewajiban ini.
  8. Kasih sayang dan perhatian Nabi Musa’alaihis salaam terhadap umat Islam, ketika beliau menyuruh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diringankan kewajiban shalat.
  9. Penetapan adanya nasakh (penghapusan hukum) dalam syariat Islam, serta bolehnya me-nasakh suatu perintah walaupun belum sempat dikerjakan sebelumnya, yakni tentang kewajiban shalat yang awalnya lima puluh rakaat menjadi lima rakaat.
  10. Surga dan neraka sudah ada sekarang, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat keduanya ketika Mi’raj.
  11. Para ulama berbeda pendapat apakah Nabi melihat Allah pada saat Mi’raj. Ada tiga pendapat yang populer : Nabi melihat Allah dengan penglihatan, Nabi melihat Allah dengan hati, dan Nabi tidak melihat Allah namun hanya mendengar kalam Allah.
  12. Pendapat yang benar bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj hanya berlangusng satu kali saja dan tidak berulang.
  13. Barangsiapa yang mengingkari Isra`, maka dia telah kafir, karena dia berarti menganggap Allah berdusta. Barangsiapa yang mengingkari Mi’raj maka tidak dikafirkan kecuali setelah ditegakkan padanya hujjah serta dijelaskan padanya kebenaran.

Hukum Mengadakan Perayaan Isra` Mi’raj

Bagaimana hukum mengadakan perayaan Isra’ Mi’raj? Berdasarkan dari penjelasan di atas, nampak jelas bagi kita bahwa perayaan Isra` Mi’raj tidak boleh dikerjakan, bahkan merupakan perkara bid’ah, karena dua alasan :

  1. Malam Isra` Mi’raj tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya. Banyaknya perselisihan di kalangan para ulama, bahkan para sahabat dalam penentuan kapan terjadinya Isra` dan Mi’raj, merupakan dalil yang sangat jelas menunjukkan bahwa mereka tidaklah menaruh perhatian yang besar tentang waktu terjadinya. Jika waktu terjadinya saja tidak disepakati, bagaimana mungkin bisa dilakukan perayaan Isra’ Mi’raj?
  2. Dari sisi syari’at, perayaan ini juga tidak memiliki landasan. Seandainya perayaan tersebut adalah bagian dari syariat Allah, maka pasti akan dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, atau minimal beliau sampaikan kepada ummatnya. Seandainya beliau dan para sahabat  mengerjakannya atau menyampaikannya, maka ajaran tersebut akan sampai kepada kita.

Jadi, tatkala tidak ada sedikitpun dalil tentang hal tersebut,  maka perayaan Isra’ Mi’raj  bukan bagian dari ajaran Islam. Jika dia bukan bagian dari agama Islam, maka tidak boleh bagi kita untuk beribadah dan bertaqarrub kepada Allah Ta’ala dengan perbuatan tersebut. Bahkan merayakannya termasuk perbuatan bid’ah yang tercela.

Berikut di antara  fatwa ulama dalam masalah ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya : ”Pertanyaan ini tentang perayaan malam Isra’ Mi’raj yang terjadi di Sudan. Kami merayakan malam Isra’ Mi’raj rutin setiap tahun,  Apakah perayaan tersebut memiliki sumber dari Al Qur’an dan As Sunnah atau pernah terjadi di masa Khulafaur Rasyidin atau pada zaman tabi’in? Berilah petunjuk kepadaku karena saya bingung dalam masalah ini. Terimakasih atas jawaban Anda.”

Jawaban Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah : “Perayaan seperti itu tidak memiliki dasar dari Al Qur’an dan As Sunnah dan tidak pula pada zaman Khulafaur Rasyidin . Petunjuk yang ada dalam Al Qur’an  dan sunnah rasul-Nya justru menolak perbuatn bid’ah tersebut karena Allah Ta’ala mengingkari orang-orang  yang menjadikan syariat bagi mereka selain syariat Allah termasuk perbuatan syirik, sebagaimana firman Allah :

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّه

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy Syuura:21)

Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari Allah dan rasul-Nya maka amalan tersebut tertolak “.

Perayaan malam Isra’ Mi’raj bukan merupakan perintah Allah dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan ummatnya dalam setiap khutbah Jum’at melalui sabda beliau :

أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Allah  dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah perkara baru dalam agama, dan setiap bid’ah adalah sesat.”[9] copy right : http://muslim.or.id/aqidah/kisah-isra-miraj.html

Semoga paparan ringkas ini dapat menambah ilmu dan wawsan kita, serta dapat menambah keimanan kita. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Welcome to my blog

Assalamualaikum wr.wb Welcome to my blog post!  It is with great excitement I take my first step in the world of blogging.  I hope you are enjoyed it amin 🙂 hmmmm semoga dapat bermanfaaat bagi kita semua  dan mendapat rahmat dari allah azza wajalla.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

I love it :)

hmmmmmmmmmmmmmm lezat nya I love Indonesia siapa yang tidak kenal dengan masakan ini ? ayoo ngaku hmmm coba ini sobat tampilanya aja wuuuuah banget ya apalagi rasanya .

Asam Padeh Tongkol Padang

 
W1siziisijiwmtqvmdgvmtqvmtcvmtevndavnjeylzk2m2jloweyzmy4ogm5zguwndvilmpwzyjdlfsiccisimnvbnzlcnqilcityxv0by1vcmllbnqgil0swyjwiiwidgh1bwiilcizmjb4il1d?sha=cd8073fc

Cerita di balik resep ini

Asam Padeh Tongkol adalah salah satu Masakan Khas Minangkabau & Melayu yang menjadi salah satu kategori 30 ikon Kuliner Tradisional Masakan Indonesia. Asam Padeh memiliki cita rasa Asam dan Pedas. Hidangan Asam Padeh telah menjadi hidangan khas masyarakat Melayu, Aceh dan Riau.

Bahan-bahan

Ikan Tongkol 2 ekor
Air 1000 ml
Air Jeruk Nipis 1 sendok makan
Serai 2 batang
Daun Jeruk 4 lembar
Daun Kunyit 1 lembar
Asam Kandis 2 biji
Bawang Merah 100 gram
Bawang Putih 8 siung
Cabai (Cabe) Merah Besar 100 gram
Lengkuas (Laos) 2 ruas
Garam 2 sendok makan
Kemiri 3 butir
Kunyit 2 ruas

Cara membuat

1

Ikan Tongkol di potong sebesar 2 cm , lalu lumuri dengan air jeruk. Diamkan 15-20 menit

2

Haluskan Bumbu-bumbu : Bawang Merah, Bawang putih, Laos, Kemiri, kunyit, Cabai besar.

3

Tumis Bumbu halus tersebut sampai berubah warna , lalu masukkan batang serai yang sudah di memarkan, Tambahkan air, lalu masukkan daun jeruk dan daun kunyit. Rebus sampai mendidih

4

Masukkan Ikan hingga semua terendam dalam kuah cabai. Masak dengan api kecil hingga air menyusut dan kuah agak mengental

5

Masukkan asam kandis, dan garam secukupnya. Aduk sebentar dan Angkat. Sajikan
Dipublikasi di kuliner | Meninggalkan komentar

Ainun (mata)

7 Tips Mudah Menjaga Kesehatan Mata Anda

ok saudaraku ini dia seputar info tentang mata:)
      Tips Menjaga Mata. Mata merupakan organ pada tubuh kita yang sangat berharga. Denga memiliki mata yang sehat, maka kita dapat melihat keindahan dunia beserta isinya. Untuk itulah, kita harus menjaga dan merawat kesehatan mata agar tidak mengalami berbagai penyakit atau masalah kesehatan lainnya seperti rabun jauh, presbiopi, miopi maupun hipermetropi. Lalu, adakah tips mudah menjaga kesehatan mata tersebut….???
            Sahabat, tips kesehatan. Banyak sekali penyakit mata yang mungkin tidak asing di telinga kita seperti miopi atau rabun jauh, presbiopi atau tidak dapat melihat benda yang berjarak jauh maupun dekat, katarak, hipermetropi atau rabun dekat, maupun buta warna yang tidak dapat membedakan aneka warna. Berbagai penyebab penyakit tersebut dapat menimpa mata anda. Seperti miopi yang banyak menimpa kalangan pelajar dan mereka yang sangat hobi dalam membaca buku. Untuk lebih memahami dan mengerti cara menjaga kesehatan mata yang benar. Berikut ini 7 tips mudah menjaga kesehatan mata anda :

  1. Perhatikan Jarak Membaca Buku. Usahakan membaca buku pada jarak yang ideal. Jarak ideal yang dimaksud yaitu membaca buku pada jarak 30 cm dari buku ke mata. Hal ini untuk mencegah penyakit mata seperti miopi atau rabun dekat.
  2. Jangan Sambil Tiduran. Usahakan tidak membaca buku atau teks apapun dalam kondisi sambil tiduran. Ini juga dapat membuat kesehatan mata terganggu seperti dapat terkena miopi.
  3. Pencahayaan Yang Cukup. Jangan menggunakan penerangan terlalu redup ketika belajar atau membaca apapun itu. karena penerangan yang kurang dapat menganggu kesehatan mata.
  4. Istirahatkan Mata. Usahakan mengistirahatkan mata, ketika sudah terlalu lama di depan layar komputer atau laptop saat mengerjakan tugas atau aktivitas apapun di komputer atau laptop. Ini juga sangat penting untuk menjaga kesehatan mata anda.
  5. Jangan Kucek Mata. Usahakan tidak mengucek mata, ketika tangan dalam keadaan kotor atau habis memegang sesuatu benda. Karena tangan yang kotor dapat menginfeksi organ mata yang akan berakibat sangat buruk untuk kesehatan mata anda.
  6. Kedipkan Mata. Usahakan mengedipkan mata dengan intensitas agak ditambah, pada saat fokus melihat sesuatu terlalu lama seperti komputer ataupun laptop.
  7. Makanan Untuk Mata. Usahakan memakan makanan yang sangat baik untuk kesehatan mata. Dalam hal ini, wortel merupakan jenis makanan yang paling baik untuk kesehatan mata, karena banyak mengandung vitamin A yang sangat baik untuk kesehatan mata.

Demikianlah tips kesehatan yang berjudul 7 tips mudah menjaga kesehatan mataanda. Organ mata harus anda perhatikan kesehatannya sepanjang waktu. Semoga bermanfaat bagi anda.(Sumber : webmd, realsimple, Sidomi,  majalah kesehatan, makhluksurga). Image courtesy of -Marcus- at FreeDigitalPhotos.net

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

kami hanyalah rakyat kecil

DSC_0499

Assalamualaikum wr.wb saudaraku ini adalah nenek ku yang berumur 62 tahun namanya Rosmidar. Nenek yang sangat aku cintai, nenekku ini sudah lumpuh selama 25 tahun nenekku hanya bisa terbaring lemah dan pasrah menerima cobaan ini. Obat yang dia makan hanya bisa mengurangi rasa nyeri sakit yang ia rasakan di perutnya. Siang berganti malam hari berganti hari tahun berganti tahun ia lewati. Tidur malampun hanya sedikit waktu yang ia dapatkan. Dia tidak bisa makan seperti khalayak kita yang biasa makan. Nenekku adalah seseorang yang menjagaku diwaktu kecil ketika ibu dan ayah mencari nafkah untuk menghidupi aku. Ibu selalu memberiku minum susu sampai umur 1,5 tahun karena faktor ekonomi jadi aku harus berhenti minum susu dan digantikan dengan air teh. Aku sekarang sudah tumbuh besar umurku sebentar lagi genap 20 tahun aku selalu berharap agar tuhan selalu memanjangkan umur nenekku ini. Nenek ku tinggal di rumah yang mungkin tidak layak lagi dipakai bangunan rumah neneku ini tidak kokoh lagi papannya saja sudah banyak dimakan oleh rayap apalagi genteng rumah nenekku ini sudah banyak bocor ketika tiba waktu hujan maka air hujan tersebut jatuh dari genteng yang bocor tersebut dan membasahi rumah nenek genteng tersebut sudah berumur 40 tahun.

Saat keadaan tersebut datang aku hanya bisa menangis dalam hatiku ya allah sabarkan nenekku, kuatkan keimananya teguhkan pendirianya mantapkan hatinya untuk menerima semua ini, serta terangkan pandangannya ya allah amin. Tidurnya saja hanya beralaskan tikar. Saat keadaan terhimpit nenekku tidak makan dengan gulai hanya dengan nasi bubur yang bisa ia makan. Saat aku ada masalah dengan problematika kehidupan ini aku selalu cerita dengan nenekku, nenek selalu menghiburku untuk selalu semangat. Meskipun begitu, tapi tuhan maha adil nenekku masih bisa berbicara. Ketika aku mendapat uang berlebih dari belanja uang kampus, aku biasanya membelikan goreng pisang terhadap nenek. Nenekku sangat suka pisang goreng. Aku merasa bahagia nenek memakanya alhamdulillah ya allah. Tubuh nenekku sekarang hanya tinggal tulang saja bahkan mata sebelah kanannyapun sudah rabun. Aku selalu bermimpi agar suatu saat nanti bisa memberi obat terhadap nenek. Tapi, apalah daya aku berharap adanya peduli pemerintah setempat terhadap kondisi nenekku ini. Namun belum pernah nenek dapatkan hal itu.

Allah SWT SWT berfirman :

  1. “Hai orang-orang yang beriman. Bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiaga-siaga (diperbatasan negrimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Q.S AL Imran 200)
Dipublikasi di keluarga | 2 Komentar